Tuesday, 18 November 2014

Lamaran

Gagal Dilamar, Haruskah Berdiam?

Pada umumnya menikah menjadi impian setiap perempuan ya. Memimpikan sosok laki-laki yang mampu membimbingnya ke jannah-Nya. Membangun cinta bersama dimulai dari bingkai halal yang jelas disunnahkan teladan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Tapi bagaimana jika keinginan itu muncul kepada seorang gadis ingusan berusia 18 tahun?

18 tahun kini masih dianggap ‘anak ingusan’ pada pandangan umat Islam Indonesia. Belum bisa mandiri, masih labil, suka main, galau, dst. Haruskah label seperti itu masih melekat dalam diri seorang muslimah? Seharusnya tidak ya saudariku…

18 tahun insya Allah sudah tergolong usia baligh. Pada perempuan dikatakan telah baligh bila mengalami menstruasi. Oke, saya sudah.. sudah mengalaminya sejak usia kurang lebih 12 tahun. Lumayan cepat tapi normal kan?

Qadarullah, seorang ikhwan menawarkan diri melamar seorang perempuan yang ingusan ini. Spontan system imun meningkat tajam. Banyak hal dipertimbangkan sehingga mencapai kesepakatan bahwa seorang yang ingusan ini membolehkan ia menghampiri wali. Tak dinyana keputusan itu meluncur di awal bangku perkuliahan. Biidznillah semoga tak salah langkah!

Setelah menunggu sekian bulan, eng ing eng rupanya tawaran itu bak proposal dana. Ya, menunggu kejelasan fix tidaknya aliran dana itu membuahkan harap dan cemas. *lah. Setelah klarifikasi dari pihak lawan, rupanya niat tersebut tidak bisa dilanjutkan dalam waktu dekat sebab restu orang tua yang tak kunjung turun. Alhamdulillah… dapat kepastian juga ^^

Merenung dan merenung, kejadian ini tak terlepas dari kesiapan kita yang memang belum mencapai titik optimal. Mungkin saja diri belum pantas menjadi istri terlebih menjadi ibu nantinya. Mungkin …
Mungkin aku kurang bertaqarrub dengan Allah…
Mungkin belum pol dekat dengan keluarga sehingga Allah menangguhkan waktuku dengan keluarga baruku nantinya…
Mungkin ilmuku mengarungi samudera rumah tangga belum memadai…
Mungkin bila aku menikah dalam waktu dekat ada amanah yang belum sempat ku tunaikan …
Mungkin ada maksiat yang menghalangiku menuju pernikahan…
Yap! Tabir kemaksiatan menghalangi rezeki kita kawan..

Nah….
Tabir kemaksiatan, apa itu?
Bagaimana mengatasinya?

Tunggu pada next another writing yeaah :) 

Tuesday, 3 June 2014

don't ask to me to be a man!

Tolong Jangan Pinta Aku menjadi Laki-laki

Aku adalah seorang wanita. Memiliki fisik normal seperti layaknya wanita pada umumnya. Maka wajar bila aku harus bertingkah seperti wanita. Untuk alasan tertentu, aku harus seperti itu hingga akhir kehidupanku.
Wanita dan laki-laki telah jelas perbedaan yang ditetapkan Allah. Ia sama-sama manusia namun berbeda jenisnya. Dalam menjalankan fungsi kodratinya, wanita dan laki-laki hendaknya bergandengan sebab keseimbangan itu yang diidamkan. Aku adalah seorang muslimah. Tentu Allah memiliki aturan jelas tentang bagaimana aku harus berpakaian dan bertingkah laku. Sebab aku mendaftarkan diri sebagai orang yang beriman, maka ujian dari Allah berikan..
Satu, dua, tiga ujian dilewati…
Menjadi muslimah tak sesulit yang dibayangkan..
Tiga, empat, lima ujian berlalu….
Ternyata kendala itu datang dari orang terdekat. Siapa lagi kalau bukan manusia?

Hai dunia, Aku seorang akhwat yang jelas beda dengan ikhwan. Berarti sah saja bila aku berpakaian muslimah, dong? Dalam beberapa kondisi memang sedikit sulit bila kita bergamis dan berkerudung lebar nan panjang saat melakukan kegiatan sporty. Eh ternyata tidak juga setelah terbiasa. Bila jilbab yang kita kenakan benar, sesuai syariat insya Allah kesulitan itu sungguh tiada arti.
 Singkat cerita, aku gelisah dengan kondisi lingkunganku. Saat ada event pendakian kecil-kecilan, tentu aku lebih memilih bergamis daripada memaksa diri mengubah penampilan menjadi laki-laki. Heii.. namun apa yang terjadi? Beberapa kawan-kawanku menyayangkan pilihanku.
Kata mereka, “Nitaa.. kasihan lho gaunmu kotor nanti..”.
*pasang muka lele* “Eh waduh masalah buat lo? (galak :3)”

Don’t you remember? Dalam sebuah hadits shahih dari ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata: ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki (HR. Al-Bukhari).

Duhai saudaraku yang keren-keren, sudikah kiranya membantuku supaya tak dilaknat Rasulullah?
Mari bantu sesama saudara dengan menjaganya istiqomah berusaha meraih ridha-Nya^^

Bukankah kita saat ini dalam perlombaan mencari perhatian-Nya? Fastabiqul khairat ya!

Tuesday, 4 February 2014

Hijrah

Langkah Hijrahku Menuju Jilbab Syar’i

Dear shalihat, alhamdulillah ya jumpa lagi pada hari-hari yang selalu Allah limpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.. insya Allah.

Dear, isu soal muslimah berjilbab adalah hal yang masih sering saya dengar di antara kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah. Mengapa begitu ya? Ya, saya juga sering membahasnya yo jelas masih terdengarlah. Hehe

Dear, semoga shalihat sekalian telah berjilbab yang sesuai tuntunan Allah ya. Aamiin..
Dear, saya ingin berbagi sedikit soal hijrah saya yang perlahan menuju jilbab syar’i. Begini ceritanya:
Saya adalah seorang pelajar muslimah yang dibiasakan berjilbab sejak saya duduk di bangku kelas 2 SD di SD Muhammadiyah 1 Denpasar. Kenapa? Iya, sebab saat kelas 1 di sekolah saya belum ada aturan soal berjilbab. Mungkin karena dianggap masih kecil jadi dibiarkan tidak berjilbab. Ckck.. *itu prasangka saya aja hehe* .  Alhamdulillah setelah itu saya berkerudung.  Jadi awal-awal pakai kerudung itu rok pendek, kemeja lengan pendek, plus kerudung. Culun iya banget XD . Naik ke kelas 3 SD perlahan saya beralih ke seragam panjang. Begitu terus sampai kelas 6 SD. Tapi yah karena belum paham jadilah pakai kerudung hanya saat sekolah dan mengaji.

Berlanjut ke SMP, saya melanjutkan ke SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Ternyata pakaiannya lebih panjang dari SD. Baju yang biasanya dimasukkan ke dalam rok, sekarang dikeluarkan. Bajunya besar dan lebar ditambah sehelai kerudung cukup lebar. Hingga kenaikan kelas 3 SMP saya terbiasa lepas pasang jilbab karena masih saja belum paham esensi jilbab.

Saat kelas 3 SMP saya mengikuti bimbel di Primagama Teuku Umar Denpasar bersama Archita.  Archita adalah teman sesekolah saya. Kami cukup dekat meskipun tak pernah sekelas. Alhamdulillah. Awal masuk kelas bimbel saya mengikuti Archita untuk memakai kerudung. Ya, saya hanya menemaninya. Itu saja. Selanjutnya hari kedua malah saya lepas kerudung saya. Perasaan tidak enak menyelimuti hingga pertemuan ketiga saya memakai kerudung lagi..hingga seterusnya. Perlahan-lahan saya mulai menyukai buku-buku keIslaman. Termasuk di antaranya soal berjilbab. Apa yang saya dapatkan lebih dari itu. Saya menjadi sadar bahwa berjilbab itu penting. Allah tegur saya lewat buku itu. *lupa judulnya =.=*
Alhamdulillah hasilnya saya berjilbab terus meskipun belum syar’i. Kerudung+celana panjang+baju panjang yang sering saya pakai. Kerudung masih pendek di atas dada yang awalnya sering ku pakai lama-kelamaan memanjang juga walaupun masih celaan kemana-mana.

Melanjutkan SMA semakin tak ingin melepaskan kerudung. Ingin negeri tapi kehendak dihadang keinginan ortu untuk tetap di Bali. Isu pelarangan jilbab sudah saya dengar sejak SMP dan memang terbukti di SMA. Astaghfirullah... cerita itu saya pisahkan dari cerita ini ya :’)
Saat kelas 1, semester pertama saya pasang lepas jilbab. Saat sekolah tidak pakai, selain itu saya pakai. Jilbab yang saya pakai masih sama seperti SMP. Hanya berbeda panjang kerudung dan bahan celana. Celana kain/celana jeans longgar.

Niat saya untuk mempelajari agama Islam semakin besar hingga mencari organisasi Islam. Alhamdulillah saya menemukannya. Pelajar Islam Indonesia daerah Denpasar. Ikut training PII menguatkan diri untuk semakin yakin bahwa berjilbab itu pentiiiing bingitz. Hehe
Saat Leadership Basic Training (Desember 2011), saya bawa rok milik mama dan lain2lah. Entah siapa yg beritahu saya untuk pakai rok, saya bawa aja.. ternyata memang bener saya sendiri yang pakai gamis *punya ibu kakak ipar saya pakai* dan rok2 lawas milik mama jadi contoh bagi peserta yang lain. Saat itu juga saya sudah memakai kaos kaki. Saya pun lagi2 lupa, siapa ya yangg nyuruh pakai begituan.. -.-

Selepas training, saya membiasakan diri kemana2 pakai rok atau gamis. Kadang berkaos kaki, kadang juga tidak. Sambil membaca, membiasakan, dan meniru kebiasaan teman-teman tumbuh semakin banyak kesadaran soal berjilbab syar’i. Meskipun di sekolah saya tidak berjilbab, di luar saya tetap memakai jilbab syar’i. Apapun itu saya hanya berkeinginan tidak melakukan pelanggaran lebih banyak lagi setelah cukup banyak di sekolah :(
Alhamdulillah bulan Januari 2014 tanggal 13 resmi mendapat izin berjilbab di sekolah :’)

Dear, berhijrah memang membutuhkan proses.
Pakai langsung jilbabmu, siap atau tidak, pendek atau panjang, biarkan raga dan jiwamu menikmatinya.

 Sembari berjilbab, insya Allah kau kan dapati atmosfer kenikmatan berjilbab. Perlahan... semesta alam kan bersama-sama ikut membantumu mencintai perintah-Nya.. yaitu berjilbab syar’i :’)

Denpasar, 4 Februari 2014 

@whardanitaa